Sabtu, 14 April 2012


Pengertian Struktur Modal

Pada dasarnya tugas manajer keuangan perusahaan adalah berusaha mencari keseimbangan finansial neraca yang dibutuhkan serta mencari susunan kualitatif neraca tersebut dengan sebaik-baiknya. “Pemilihan susunan kualitatif pada sisi assets akan menentukan struktur kekayaan perusahaan, sedangkan pemilihan susunan kualitatif dari sisi liabilities dan equities akan menentukan struktur keuangan dan struktur modal perusahaan” (Riyanto, 1984, p.4). Wasis (1981) menyatakan bahwa struktur modal harus dapat dibedakan dengan struktur keuangan. Struktur keuangan menyatakan dengan cara bagaimana harta perusahaan dibiayai. Oleh karena itu struktur keuangan adalah keseluruhan yang terdapat di dalam Neraca sebelah kredit. Pada neraca sebelah kredit terdapat hutang jangka panjang maupun jangka pendek, dan modal sendiri baik jangka
panjang maupun jangka pendek. Jadi struktur keuangan mencakup semua pembelanjaan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Sebaliknya struktur modal hanya menyangkut pembelanjaan jangka panjang saja. Tidak termasuk pembelanjaan jangka pendek.
Weston dan Copeland (1992) memberikan definisi struktur modal sebagai pembiayaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Bila perusahaan memiliki saham preferen, maka saham tersebut akan ditambahkan pada modal pemegang saham.
Menurut Lawrence, Gitman (2000, p.488), definisi struktur modal adalah sebagai berikut: ”Capital Structure is the mix of long term debt and equity maintained by the firm”. Struktur modal perusahaan menggambarkan perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan. Ada dua macam tipe modal menurut Lawrence, Gitman (2000) yaitu modal hutang (debt capital) dan modal sendiri (equity capital). Tetapi dalam kaitannya dengan struktur modal, jenis modal hutang yang diperhitungkan hanya hutang jangka panjang.

Komponen Struktur Modal
1. Hutang Jangka Panjang
Jumlah hutang di dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan dalam operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang, tetapi pada umumnya pinjaman jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003, p.324), “hutang jangka panjang merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun, biasanya 5 – 20 tahun”. Pinjaman hutang jangka panjang dapat berupa pinjaman berjangka (pinjaman yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja permanen, untuk melunasi hutang lain, atau membeli mesin dan peralatan) dan penerbitan obligasi (hutang yang diperoleh melalui penjualan surat-surat obligasi, dalam surat obligasi ditentukan nilai nominal, bunga per tahun, dan jangka waktu pelunasan obligasi tersebut).
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt ratio) dilakukan dengan cara membagi total hutang jangka panjang dengan total asset. Semakin tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan manajemen sehingga memilih untuk menggunakan hutang menurut Sundjaja at. al (2003) adalah sebagai berikut:
1. Biaya hutang terbatas, walaupun perusahaan memperoleh laba besar, jumlah bunga yang dibayarkan besarnya tetap.
2. Hasil yang diharapkan lebih rendah daripada saham biasa
3. Tidak ada perubahan pengendalian atas perusahaan bila pembiayaan memakai hutang.
4. Pembayaran bunga merupakan beban biaya yang dapat mengurangi pajak
5. Fleksibilitas dalam struktur keuangan dapat dicapai dengan memasukkan peraturan penebusan dalam perjanjian obligasi.
Kreditur (investor) lebih memilih menanamkan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang karena beberapa pertimbangan. Menurut Sundjaja at. al (2003), pemilihan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang dari sisi investor didasarkan pada beberapa hal berikut:
1. Hutang dapat memberikan prioritas baik dalam hal pendapatan maupun likuidasi kepada pemegangnya.
2. Mempunyai saat jatuh tempo yang pasti.
3. Dilindungi oleh isi perjanjian hutang jangka panjang (dari segi resiko).
4. Pemegang memperoleh pengembalian yang tetap (kecuali pendapatan obligasi).

2. Modal Sendiri
Menurut Wasis (1981), dalam struktur modal konservatif, susunan modal menitikberatkan pada modal sendiri karena pertimbangan bahwa penggunaan hutang dalam pembiayaan perusahaan mengandung resiko yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan modal sendiri. Menurut Sundjaja at al. (2003, p.324), “modal sendiri/equity capital adalah
dana jangka panjang perusahaan yang disediakan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham), yang terdiri dari berbagai jenis saham (saham preferen dan saham biasa) serta laba ditahan”.
Pendanaan dengan modal sendiri akan menimbulkan opportunity cost. Keuntungan dari memiliki saham perusahaan bagi owner adalah control terhadap perusahaan. Namun, return yang dihasilkan dari saham tidak pasti dan pemegang saham adalah pihak pertama yang menanggung resiko perusahaan. Modal sendiri atau ekuitas merupakan modal jangka panjang yang diperoleh dari pemilik perusahaan atau pemegang saham. Modal sendiri diharapkan tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas sedangkan modal pinjaman memiliki jatuh tempo. Ada 2 (dua) sumber utama dari modal sendiri yaitu:
a) Modal saham preferen
Saham preferen memberikan para pemegang sahamnya beberapa hak istimewa yang menjadikannya lebih senior atau lebih diprioritaskan daripada pemegang saham biasa. Oleh karena itu, perusahaan tidak memberikan saham preferen dalam jumlah yang banyak.
Beberapa keuntungan penggunaan saham preferen bagi manajemen menurut Sundjaja at. al (2003) adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pengaruh keuangan.
2. Fleksibel karena saham preferen memperbolehkan penerbit untuk tetap pada posisi menunda tanpa mengambil resiko untuk memaksakan jika usaha sedang lesu yaitu dengan tidak membagikan bunga atau membayar pokoknya.
3. Dapat digunakan dalam restrukturisasi perusahaan, merger, pembelian saham oleh perusahaan dengan pembayaran melalui hutang baru dan divestasi.
b) Modal saham biasa
Pemilik perusahaan adalah pemegang saham biasa yang menginvestasikan uangnya dengan harapan mendapat pengembalian dimasa yang akan datang. Pemegang saham biasa kadang-kadang disebut pemilik residual sebab mereka hanya menerima sisa setelah seluruh tuntutan atas pendapatan dan asset telah dipenuhi.
Ada beberapa keunggulan pembiayaan dengan saham biasa bagi kepentingan manajemen (perusahaan), menurut Sundjaja at. al (2003), yaitu :
1. Saham biasa tidak memberi dividen tetap. Jika perusahaan dapat memperoleh laba, pemegang saham biasa akan memperoleh dividen. Tetapi berlawanan dengan bunga obligasi yang sifatnya tetap (merupakan biaya tetap bagi perusahaan), perusahaan tidak
diharuskan oleh hukum untuk selalu membayar dividen kepada para pemegang saham biasa.
2. Saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
3. Karena saham biasa menyediakan landasan penyangga atas rugi yang diderita para kreditornya, maka penjualan saham biasa akan meningkatkan kredibilitas perusahaan.
4. Saham biasa dapat, pada saat-saat tertentu, dijual lebih mudah dibandingkan bentuk hutang lainnya. Saham biasa mempunyai daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok investor tertentu karena (a) dapat memberi pengembalian yang lebih tinggi dibanding bentuk hutang lain atau saham preferen; dan (b) mewakili kepemilikan perusahaan, saham biasa menyediakan para investor benteng proteksi terhadap inflasi secara lebih baik dibanding saham preferen atau obligasi. Umumnya, saham biasa meningkat nilainya jika nilai aktiva riil juga meningkat selama periode inflasi.
5. Pengembalian yang diperoleh dalam saham biasa dalam bentuk keuntungan modal merupakan obyek tarif pajak penghasilan yang rendah. (Weston & Copeland) Menurut Wasis (1981, p.81), “pemilik yang menyetorkan modal akan menjadi penanggung resiko yang pertama. Artinya bahwa pihak non pemilik tidak akan menderita kerugian sebelum kewajiban dari pemilik ditunaikan seluruhnya.
Kerugian perusahaan pertama-tama harus dibebankan kepada pemilik. Dari segi investor (Sundjaja, 2003), keuntungan menggunakan saham (modal sendiri) adalah sebagai berikut:
1. Memiliki hak suara (hak kendali) dalam perusahaan.
2. Tidak ada jatuh tempo.
3. Karena menanggung resiko yang lebih besar, maka kompensasi bagi pemegang modal sendiri lebih tinggi dibanding dengan pemegang modal pinjaman.



                                        













BAB II
PENGERTIAN DAN TEORI STRUKTUR MODAL

Untuk mengetahui Pengertian Struktur Modal, maka dengan ini dapat dijelaskan tentang Definsi Modal dan Definisi Strukutur Modal sebagai berikut :

2.1.      Pengertian Modal dan Struktur Modal
                Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan dalam pos modal  (modal saham), keuntungan atau laba yang ditahan atau kelebihan aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh utangnya (Munawir,2001).
Modal pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu modal Aktif (Debet) dan modal Pasif (Kredit).
                Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal merupakan masalah penting dalam pengambilan keputusan mengenai pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur Modal tersebut maka dapat digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur Modal dalam suatu Perusahaan.

2.2.         Teori Struktur Modal

2.2.1.     Teori Pendekatan Tradisional
Pendekatan Tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya Struktur Modal mempunyai pengaruh terhadap Nilai Perusahaan, dimana Struktur Modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal.

2.2.2.     Teori Pendekatan Modigliani dan Miller
Dalam teori ini berpendapat bahwa Struktur Modal tidak mempengaruhi Perusahaan. Dalam hal ini telah dimasukkan faktor pajak. Sehingga nilai Perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahan tanpa hutang, Kenaikan tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak.

2.2.3.     Teori Trade-Off dalam Struktur Modal
Dalam kenyataan, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak banyaknya. Suatu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang, akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa cukup signifikan. Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu :
a.       Biaya Langsung
Yaitu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, atau biaya lainnya yang sejenis.

b.      Biaya Tidak Langsung
Yaitu, biaya yang terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal. Misalnya Suplier tidak akan mau memasok barang karena mengkwatirkan kemungkinan tidak akan membayar.

Biaya lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan antara pemegang hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh pemegang hutang akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan. Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya biaya monitoring (Persyaratan yang lebih ketat) dan bisa dalam bentuk kenaikan tingkat bunga



2.2.4.     Teori Pecking Order
Teori Trade-Off mempunyai implikasi bahwa manager akan berfikir dalam kerangka trade-off antara penghematan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan Struktur Modal. Dalam kenyataan empiris nampaknya jarang manager keuangan yang berfikir demikian.

Secara spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutan prefensi dalam penggunaan dana. Skenario urutan dalam Teori Pecking Order adalah sebagai berikut :
a.       Perusahaan memilih pandangan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
b.      Perusahaan menhitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan investasi.
c.       Karena kebijakan deviden yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada saat saat tertentu dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
d.      Jika padangan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.

Teori Pecking Order ini bisa menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.

2.2.5.     Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Teori ini mengatakan bahwa dalam pihak pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih dari pihak lainnya.
                                Teori ini terdiri dari Teori :
a.       Myers dan Majluf
Menurut Teori ini ada asimetri informasi antara manger dengan pihak luar. Manager mempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingan pihak luar.

b.      Signaling
Mengembangkan model dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manager ke pasar. Jika manager mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar saham tersebut meningkat, ia ingin megkomunikasikan hal tersebut kepada investor. Manager bisa menggunakan hutang lebih banyak sebagai signal yang lebih credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik.

2.2.6.     Teori Lainnya
                                2.2.6.1. Pendekatan Teori Keagenan (Agency Approach)
Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manager adalah konsep free-cash flow.  Ada kecenderungan manager ingin menahan sumber daya  sehingga mempunyai control atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik leagenan free cash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka manager akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan untuk membayar bunga.

2.2.6.2.Pendekatan Interaksi Produk
Teori ini berangkat dari teori organisasi industri dan relatif  baru, dibandingkan dengan teori lainnya. Ada dua kategori dalam pendekatan ini, yaitu Strategi dan Menjelaskan hubungan antara Struktur Modal dengan karakteristik produk atau input.

2.2.6.3. Konteks atas Pengendalian Perusahaan
Beberapa penemuan pendekatan ini adalah perusahaan yang menjadi target (dalam pengambilalihan) akan meningkatkan tingkat hutangnya, berhubungan dengan kemungkinan sukses tender offer (penawaran terbuka pada proses pengamalihan usaha).



BAB III
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Struktur Modal antara lain :

3.1.         Struktur Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva tetap , akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanent yaitu modal sendiri, sedangkan hutang bersifat pelengkap. Perusahaan yang semakin besar aktivanya terdiri dari aktiva lancer akan cenderung mengutamakan pemenuhan  kebutuhan dana dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal suatu perusahaan.

3.2.       Growth Opportunity
Yaitu kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan. Teori Agency menggambarkan hubungan yang negative antara Growth Opprtunity dan leverage. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung akan melewatkan kesempatan  dalam berinvestasi pada kesempatan investasi yang menguntungkan.


3.3.         Ukuran Perusahaan (Firm Size)
                Perusahaan besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha atau kebangkrutan akan  lebih kecil. Ukuran perusahaan sering dijadikan indicator bagi kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan, dimana perusahaan dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi krisis dalam menjalankan usahanya.

3.4.      Profitabiltas
Teori Pecking Order mengatakan bahwa perusahaan lebih menyukai  internal funding. Perusahaan dengan frofitalitas yang tinggi tentu memiliki dana internal yang lebih banyak dari pada perusahaan dengan profitalitas rendah.
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi  investasi menggunakan utang yang relative kecil (Bringham & Houston, 2001).
Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitalitas berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.
Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh berarti semakin rendah utang.



3.5.      Risiko Bisnis
Risiko Bisnis akan mempersulit perusahaan dalam melaksanakan pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh negative terhadap leverag STRUKTUR MODAL OPTIMAL

Sumber dana yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasinya dapat ditempuh dengan dua alternatif yaitu modal sendiri atau modal pinjaman (hutang). Modal sendiri dan pinjaman merupakan input yang bisa dipilih perusahaan untuk mendanai aktivitas operasi, investasi untuk memaksimumkan nilai modal pemegang saham. Masing-masing input tersebut akan dihadapkan pada biaya modal (cost of capital) yang berbeda dan resiko yang berbeda. Dengan demikian perumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini antara lain : 1) Faktor-faktor resiko apa yang mempengaruhi tingkat pengembalian investor dan kreditor ? 2) Bagaimana komposisi modal optimal PT. Flavour Indonesia ? dan 3) Bagaimana pengaruh pertumbuhan penjualan dan arus kas terhadap komposisi struktur modal optimal ? Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa faktor-faktor resiko yang mempengaruhi tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor dan kreditor, merumuskan komposisi struktur modal optimal PT. Flavour Indonesia untuk memaksimumkan nilai perusahaan dan menganalisa pertumbuhan penjualan dan arus kas PT. Flavour Indonesia di masa mendatang terhadap struktur modal optimal perusahaan.

Terdapat tiga teori yang mendasari manfaat penggunaan hutang dalam perusahaan antara lain : pertama, teori sinyal (Signaling Theory atau Packing Order Theory) yang menyatakan bahwa saat manajemen melakukan hutang merupakan sinyal kepada investor bahwa perusahaan sedang melakukan investasi yang beresiko rendah. Kedua, teori keagenan (Agency Theory) menyatakan bahwa penggunaan hutang merupakan alat kontrol untuk mendisiplinkan manajemen, dalam membayar jumlah dan waktu hutang harus dibayar dari pokok dan bunganya. Kedua teori tersebut hanya menjelaskan manfaat hutang terhadap perusahaan, tetapi tidak menjelaskan seberapa besar hutang yang harus dilakukan agar nilai perusahaan mencapai optimal.

Teori yang ketiga disebut teori trade-off yang memberi penjelasan seberapa besar hutang yang harus dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dampak positif penggunaan hutang meliputi: 1) adanya hutang dalam struktur kepemilikan perusahaan akan mendisiplinkan manajemen dalam mengelola arus kas perusahaan dan mengurangi adanya biaya keagenan. 2) hutang dapat di gunakan sebagai alat sinyal kepada investor tentang nilai perusahaan di masa yang akan datang. 3) Pembayaran bunga kepada kreditor merupakan alat untuk mengendalikan manajemen terhadap penggunaan free cash flows yang tidak perlu. Dampak negatif penggunaan hutang meliputi: 1) Hutang meningkatkan adanya kemungkinan bankrut dan kenaikan adanya resiko keuangan. 2) Peningkatan financial distress dan biaya likuidasi. 3) Hutang yang tinggi memungkinkan perusahaan dilakukan Leverage Buy Out. Teori ini menyatakan bahwa struktur modal optimal di tentukan oleh trade-off antara manfaat dan kerugian menggunakan sumber pendanaan dari hutang. Keuntungan dari penggunaan hutang utamanya adalah adanya efek perlindungan pajak (tax shield) dan penurunan biaya keagenan. Saat kedua trade-off bertemu pada satu titik maka nilai perusahaan menjadi maksimum, dan merupakan batasan dimana perusahaan harus menggunakan hutang agar tidak terkena dampak negatif dari hutang.

Tehnik yang dipergunakan untuk menganalisa tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor maupun kreditor yang dihadapkan pada faktor resiko yaitu tehnik Capital Asset Pricing Models (CAPM). Salah satu kelebihan tehnik CAPM adalah dapat digunakan untuk menghubungkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor ataupun kreditor dengan tingkat resiko yang dihadapi. Dalam hal ini resiko yang dihadapi perusahaan meliputi: resiko bisnis (business risk), resiko operasional (operational leverage) dan resiko keuangan (financial leverage). Laba perusahaan belum tentu dibagikan menjadi deviden yang utuh diterima oleh investor, demikian juga kreditor yang menerima arus kas riil berupa bunga yang berjumlah tetap dan harus dibayar oleh perusahaan dalam periode tertentu. Hal inilah yang menjadikan tehnik CAPM cocok digunakan dalam analisis hubungan tingkat pengembalian investor dan kreditor dengan faktor resiko yang dihadapi perusahaan.

Untuk mengetahui perubahan marginal beta dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor dan investor dengan perubahan penggunaan tingkat hutang maka digunakan metode Hamada Equation. Untuk mengukur biaya modal perusahaan digunakan nilai WACC, dan untuk nilai perusahaan digunakan metode Present Value sesuai dengan WACC berdasarkan tingkat hutang yang digunakan. Batasan menggunakan hutang untuk mencapai struktur modal optimal adalah perubahan marginal WACC dan nilai perusahaan mencapai nol, dan batasan penerimaan hutang agar perusahaan layak adalah NPV minimal nol.

Hasil pengujian data terhadap penggunaan dan pemenuhan asumsi OLS adalah sebagai berikut, pengujian Variance Inflation Factor dilakukan untuk menguji multikolinieritas antar variabel bebas dalam data yang digunakan. Hasil regresi untuk CAPM tingkat pengembalian kreditor, tingkah laku biaya tetap dan variabel terjadi korelasi positif, untuk menghilangkan dampak korelasi digunakan metode Cohrane-Orcutt sehingga otokorelasi order pertama dapat dihilangkan dengan pengujian Durbin-Watson. Untuk pengujian heterokedastisitas digunakan metode Glejser setelah data yang bersifat outlier dihilangkan. Dengan demikian hasil regresi seluruh model memenuhi asumsi linear dan asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) dapat digunakan.

Hasi regresi CAPM multifaktor atas resiko dan tingkat pengembalian yang diharapkan investor adalah: Resiko pasar meliputi IHSG dengan beta 0.624, beta nilai tukar rupiah terhadap US dollar periode lag (t-1) adalah -0.408, dan beta inflasi sebesar -0.006, masing-masing dengan tingkat keyakinan 5 persen dan inflasi 10 persen. Di sisi lain untuk GDP tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Resiko spesifik yang mempengaruhi tingkat pengembalian investor antara lain struktur modal dengan koefisien 0.24 dan Return on Investment (ROI) sebesar 0.627 dengan tingkat keyakinan 5 persen. Untuk likuiditas berpengaruh nyata pada beta 0.065 dengan tingkat keyakinan 10 persen, sedangkan turnover dan pertumbuhan aktiva tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Dengan demikian beta yang dihadapi oleh investor adalah sebesar 1.142

Resiko-resiko yang mempengaruhi tingkat pengembalian kreditor meliputi coverage ratio dengan beta 0.0246, beta Profit Operating Ratio (POR) sebesar 0.11 struktur modal dengan beta 0.3746 dan beta likuiditas bertanda negatif sebesar -0.013 masing-masing mempunyai tingkat signifikansi pada tingkat kepercayaan 5 persen. Di sisi lain faktor Price Book Value Ratio (PBV), Return on Investment (ROI), Inventory Turnover dan pertumbuhan aktiva tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen, sehingga total beta dari kreditor yang signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen adalah sebesar 0.4956.

Untuk menghitung struktur modal optimal PT. Flavour Indonesia berdasarkan beta investor dan kreditor pada industri makanan dan minuman digunakan premi bebas resiko dari rata-rata tingkat suku bunga Bank Indonesia periode 2002-2004 sebesar 10.80 persen. Premi resiko didasarkan pada rata-rata risk country dari PERC Asian Intelligence Reports periode 2001-2003 sebesar 9.61 persen. Struktur Modal Optimal PT.Flavour Indonesia akan mencapai optimal pada komposisi hutang sebesar 22.5 persen atau sebesar Rp. 3,375,000,000.00 dengan tingkat pengembalian yang diharapkan investor sebesar 17.34 persen dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sebesar 16.53 persen dan mencapai WACC minimal sebesar 16.042 persen. Pada kondisi tersebut nilai perusahaan mencapai optimal senilai Rp.11,641,000,000.00 dengan NPV Rp. 1,817,000,000.00 dan nilai marginal WACC, nilai perusahaan dan NPV mencapai nol. Untuk mempertahankan agar perusahaan tetap layak atau NPV minimal nol maka hutang maksimal yang bisa digunakan sebesar 60 persen atau sebesar Rp. 9,000,000,000.00

Tingkah laku biaya jangka pendek menunjukkan bahwa Rp.0.6732 dari Rp.1 penjualan bersifat variabel dari penjualan dan Rp.196,335,708.00 per tahun bersifat tetap dan tidak dipengaruhi tingkat penjualan, sedangkan dalam jangka panjang terjadi kecenderungan kenaikan biaya tetap menjadi Rp. 406,654,380.00 dan biaya variabel menjadi sebesar Rp. 0.7495 dari Rp. 1 penjualan atau terjadi penurunan margin penjualan sebesar Rp. 0.0763 dari Rp.1 penjualan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang cenderung terjadi kenaikan resiko operasi perusahaan, yang berarti untuk mencapai tingkat titik impas dan untuk memenuhi tingkat pengembalian yang diharapkan investor maka jumlah penjualan juga harus ditingkatkan.

Struktur modal optimal perusahaan dapat dicapai jika penjualan perusahaan dalam kisaran Rp.8,476,191,225.00 sampai dengan Rp.11,900,074.524.00. Dalam kondisi ini perusahaan dapat menutup biaya operasi dan tingkat pengembalian yang diharapkapkan oleh investor dan kreditor. Untuk mencapai titik impas pada kondisi struktur modal optimal maka penjualan harus dilakukan dalam kisaran Rp.2,308,392,010.00 sampai dengan. Rp.3,851,917,495.00 yang artinya investor tidak menerima tingkat pengembalian yang diharapkan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penggunaan hutang perusahaan harus menyesuaikan pada tingkat penjualan yang sudah dicapai agar hutang tidak berdampak negatif terhadap laba dan arus kas perusahaan. Penggunaan hutang untuk mencapai struktur modal optimal dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan pencapaian penjualan perusahaan.

Seandainya dalam pelaksanaan penggunaan hutang tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sesudah dihitung dengan metode CAPM berbeda dengan tingkat suku bunga riil yang dinginkan kreditor, maka perusahaan dapat menyesuaikan kondisi tersebut dengan cara meningkatkan atau menurunkan penggunaan hutang. Apabila suku bunga riil yang diinginkan kreditor di bawah struktur modal optimal 16.53 persen, maka tingkat penggunaan hutang harus ditingkatkan dan apabila diatas 16.53 persen maka penggunaan hutang dapat diturunkan agar struktur modal optimal perusahaan dapat tetap dipertahankan.

ANALISIS KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL
(Studi pada Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)



A.    Latar Belakang
Indonesia adalah negara dengan kepadatan penduduk tertinggi ke-3 di kecil unia. Menurut survei terakhir tahun 2000, Indonesia memiliki kurang lebih 250 juta jiwa (www.google.com/ apa )  tak boleh awal kamimat Dalam hal kehidupannya, manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan sebagai kebutuhan primer. Meningkatnya kebutuhan papan yang sejalan dengan meningkatnya populasi penduduk, maka pinggiran sungaipun menjadi serbuan orang untuk membuat rumah. Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia memperoleh perhatian sungguh-sungguh walaupun kenyataan menunjukkan, bahwa kebutuhan atau permintaan terhadap rumah tetap jauh lebih besar dari kemampuan untuk menyediakannya. ini Namun juga  demikian dengan berbagai cara, pembangunan perumahan beserta lingkungannya tetap diusahakan untuk dapat berjalan seimbang dengan laju pertambahan penduduk.
Semakin gencarnya usaha pemerintah dalam melakukan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah demi tercapainnya kesejahteraan masyarakat, maka pembangunan fisik yang sedang berlangsung, harus didukung oleh komponen-komponen yang menunjang. Salah satu komponen yang terlibat langsung dan bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang pokok dalam pembangunan fisik adalah tersedianya semen.
Kinerja industri semen yang dapat dikatakan baik terlihat dengan produksi semen di Indonesia yang kapasitasnya kini mencapai sekitar 42 juta ton per tahun denagn produksi di atas 30 juta ton per tahun, Selain diproduksi untuk dalam negeri juga diekspor. Departemen Perindustrian menarhetkan ekspor semen dan bahan galian non logam lainnya pada tahun 2006 tumbuh sebasar 7 persen atau mencapai sekitar USD170 juta dibandingkan tahun 2005 yang mencapai USD160 juta. Dengan adanya pertumbuhan tersebut, Departemen Perindustrian memperkirakan jumlah tenaga kerja di sektor tersebut juga akan meningkat dari 210 ribu orang pada tahun 2005 menjadi 215 ribu orang pada tahun 2006. Di bawah ini merupakan laba bersih yang dicatat oleh PT Semen Gresik, Tbk. dan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.(Media Indonesia, 24 Januari 2006)
Table 1. Laba Bersih yang dicatat PT  Seman Gresik, Tbk. dan PT  Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. (dalam rupiah) Satu spasi
tahun
PT Semen Gresik, Tbk.
PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.
2003
Rp 399.007.535,00
Rp 670.289.725.534,00
2004
Rp 508.915.808,00
Rp 116.023.426.558,00
2005
Rp 1.022.568.492,00
Rp 739.685.877.628,00
Sumber:www.bes.co.id
Kondisi keuangan PT Semen Gresik, Tbk. dalam beberapa tahun ini menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari laba bersih yang diperoleh perusahaan  pada tahun 2003 hingga tahun 2005 selalu mangalami peningkatan. Berbeda halnya dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa yang mangalami penurunan pada tahun 2004. PT Seman Gresik, Tbk. diresmikan pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh presiden RI pertama dengan kapasitas 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 PT Semen Gresik, Tbk. tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya serta BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Komposisi pemegang sahamnya adalah pemerintah RI 73 persen dan masyarakat 27 persen. (www.semengresik.com).
PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dan anak perusahaannya merupakan sebuah kelompok multi usaha dengan tiga usaha utama yaitu usaha semen, usaha makanan, dan usaha lainnya. Usaha semen terutama meliputi pengelolaan 8 pabrik semen dan 2 pabrik terpadu dengan jumlah kapasiyas keseluruhan sebesar 10.9 juta ton per tahun.(www.google.com.). Selain kondisi kedua industri semen tersebut dalam beberapa tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik yang diikuti dengan permintaan pasar yang semakin meningkat, perbedaan kondisi keuangan kedua perusahaan di atas juga menjadi alasan peneliti memilih PT Semen Gresik dan PT Indocement Tunggal Prakarsa untuk melihat perbedaan analisis keputusan struktur modalnya.
Setiap perusahaan memiliki rencana  untuk dapat menjaga kelangsungan hidup dari usaha yang didirikan, karena tujuan dari suatu perusahaan secara umum adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan profitabilitas (Warsono, 2003:5). Rencana tersebut dapat dibuat oleh beberapa manajemen perusahaan yang dapat saling bekerja sama demi terciptanya tujuan dari perusahaan. Rencana tersebut  tentunya juga berkaitan dengan keputusan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan.
Setelah tujuan perusahaan diketahui langkah selanjutnya adalah merealisasikan agar tujuan dari perusahaan dapat terwujud. Pertama-tama manajemen perusahaan harus mengambil keputusan mengenai pengalokasian dana ke dalam bentuk-bentuk investasi yang diharapkan dapat mendatangkan keuntunhan bagi perusahaan. Langkah selanjutnya adalah menganalisis kombinasi-kombinasi sumber pembelanjaan yang tepat untuk perusahaan.
Langkah yang terakhir adalah keputusan manajemen aktiva (assets management decision) yang menuntut manajer keuangan untuk lebih memperhatikan manajemen aktiva lancar daripada aktiva tetap. Penentuan struktur modal bagi suatu perusahaan merupakan salah satu bentuk keputusan keuangan yang penting, karena ini berpengaruh terhadap pencapaian tujuan manajemen keuangan perusahaan. Suatu perusahaan dikatakan memiliki struktur modal yang buruk ketika perusahaan mempunyai beban hutang yang sangat besar.
Proses keputusan struktur modal sangat berkaitan dengan penentuan bauran sumber pembelanjaan jangka panjang yang optimal dan bertujuan untuk memaksimumkan nilai pasar perusahaan serta meminimumkan biaya modal total perusahaan. Dalam pengambilan keputusan struktur modal alat analisis yang digunakan untuk mengnalisa pengaruh perubahan bauran komposisi sumber modal meliputi : pendekatan EBIT-EPS, analisa arus kas, dan rasio peliputan (coverage ratio).
Tingkat leverage keuangan yang paling optimal sangat perlu memperhatikan dan memahami hubungan antara EBIT dan EPS pada berbagai alternatif pendanaan (financing). Besarnya EPS sangat tergantung pada pilihan pendanaan manajemen perusahaan, karena EPS adalan laba per lembar saham yang tersedia untuk pemegang saham biasa yang berasal dari laba perusahaan dikurangi biaya bunga dan deviden saham preferen, sedangkan EBIT tidak tergantung pada leverage keuangan. Analisis EBIT-EPS ini bisa digunakan perusahaan untuk melihat dampak dari berbagai alternatif pendanaan terhadap EPS pada tingkat EBIT yang bervariasi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis akan melakukan penelitian dengan mengambil judul : ”Analisis Keputusan Struktur Modal” (Studi kasus pada perusahaan industri semen yang terdaftar di BEJ).

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah ”Berapakah tambahan dana imana hasil analisis struktur modal pada PT Semen Gresik, Tbk. dan PT  Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. jika membutuhkan dana tambahan?

C.    Batasan Penelitian
Berdasarkan masalah yang ada dan agar tidak melebar serta dapat memberikan pemahaman yang sesuai dengan rumusan masalah, maka batasan masalah peneliiti ini adalah sebagai berikut:
”Peneliti menggunakan harga saham penutupan bulanan PT Semen Gresik, Tbk. dan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. periode tahun 2003 sampai tahun 2005.”

D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumber pembelanjaan mana yang akan dipakai oleh perusahaan dalam keputusan struktur modal pada PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosement Tunggal Prakarsa, Tbk.jika membutuhkan dana tambahan
2.    Manfaat Penelitian
a.    Bagi manajemen PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosement Tunggal Prakarsa, Tbk.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan dalam menentukan keputusan struktur modal yang akan digunakan dalam memenuhi sumber modalnya.
b.    Bagi investor dan pemegang saham PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosemen, Tbk.
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi bagi para investor yang ingin menginvestasikan sebagian dari modalnya ke dalam sebuah perusahaan.
c.     Bagi peneliti selanjutnya


Hasil dari penelitian ini diharapkan  dapat memberikan tambahan wawasan untuk melakukan Cash Flow               Get Cash Flow for:
View: Annual Data | Quarterly Data         All numbers in thousands
Period Ending    Jun 30, 2010        Jun 30, 2009        Jun 30, 2008
Net Income        1,211,400             1,332,600             1,235,700 
Operating Activities, Cash Flows Provided By or Used In
Depreciation      366,500                 366,000                 361,800 
Adjustments To Net Income       221,600                 124,500                 82,100 
Changes In Accounts Receivables             (108,800)             (152,600)             34,200 
Changes In Liabilities      (38,600)                (22,300)                98,900 
Changes In Inventories -              -              - 
Changes In Other Operating Activities    30,000  (85,600)                (40,500)
Total Cash Flow From Operating Activities            1,682,100             1,562,600             1,772,200 
Investing Activities, Cash Flows Provided By or Used In
Capital Expenditures      (102,900)             (157,800)             (181,000)
Investments      (2,079,200)          (358,900)             (1,266,600)
Other Cash flows from Investing Activities           (1,836,800)          (859,100)             4,061,500 
Total Cash Flows From Investing Activities            (2,379,500)          (644,100)             2,613,900 
Financing Activities, Cash Flows Provided By or Used In
Dividends Paid  (673,400)             (629,400)             (548,900)
Sale Purchase of Stock   (525,300)             (497,700)             (1,265,100)
Net Borrowings                (732,900)             720,600                 (3,457,400)
Other Cash Flows from Financing Activities          -              (11,800)                700 
Total Cash Flows From Financing Activities            89,000                   468,400                 (5,270,700)
Effect Of Exchange Rate Changes             (13,600)                (39,100)                41,300 
Change In Cash and Cash Equivalents     (622,000)             1,347,800             (843,300) penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penelitian yang sejenis dan pengembangan lebih lanjut ke arah yang lebih baik.e perusahaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar