Pengertian
Struktur Modal
Pada dasarnya tugas manajer keuangan perusahaan adalah berusaha mencari keseimbangan finansial neraca yang dibutuhkan serta mencari susunan kualitatif neraca tersebut dengan sebaik-baiknya. “Pemilihan susunan kualitatif pada sisi assets akan menentukan struktur kekayaan perusahaan, sedangkan pemilihan susunan kualitatif dari sisi liabilities dan equities akan menentukan struktur keuangan dan struktur modal perusahaan” (Riyanto, 1984, p.4). Wasis (1981) menyatakan bahwa struktur modal harus dapat dibedakan dengan struktur keuangan. Struktur keuangan menyatakan dengan cara bagaimana harta perusahaan dibiayai. Oleh karena itu struktur keuangan adalah keseluruhan yang terdapat di dalam Neraca sebelah kredit. Pada neraca sebelah kredit terdapat hutang jangka panjang maupun jangka pendek, dan modal sendiri baik jangka
panjang maupun jangka pendek. Jadi struktur keuangan mencakup semua pembelanjaan baik jangka panjang maupun jangka pendek. Sebaliknya struktur modal hanya menyangkut pembelanjaan jangka panjang saja. Tidak termasuk pembelanjaan jangka pendek.
Weston dan Copeland (1992) memberikan definisi struktur modal sebagai pembiayaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen, dan modal pemegang saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan. Bila perusahaan memiliki saham preferen, maka saham tersebut akan ditambahkan pada modal pemegang saham.
Menurut Lawrence, Gitman (2000, p.488), definisi struktur modal adalah sebagai berikut: ”Capital Structure is the mix of long term debt and equity maintained by the firm”. Struktur modal perusahaan menggambarkan perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan oleh perusahaan. Ada dua macam tipe modal menurut Lawrence, Gitman (2000) yaitu modal hutang (debt capital) dan modal sendiri (equity capital). Tetapi dalam kaitannya dengan struktur modal, jenis modal hutang yang diperhitungkan hanya hutang jangka panjang.
Komponen Struktur Modal
1. Hutang Jangka Panjang
Jumlah hutang di dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan dalam operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang, tetapi pada umumnya pinjaman jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003, p.324), “hutang jangka panjang merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun, biasanya 5 – 20 tahun”. Pinjaman hutang jangka panjang dapat berupa pinjaman berjangka (pinjaman yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja permanen, untuk melunasi hutang lain, atau membeli mesin dan peralatan) dan penerbitan obligasi (hutang yang diperoleh melalui penjualan surat-surat obligasi, dalam surat obligasi ditentukan nilai nominal, bunga per tahun, dan jangka waktu pelunasan obligasi tersebut).
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt ratio) dilakukan dengan cara membagi total hutang jangka panjang dengan total asset. Semakin tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan manajemen sehingga memilih untuk menggunakan hutang menurut Sundjaja at. al (2003) adalah sebagai berikut:
1. Biaya hutang terbatas, walaupun perusahaan memperoleh laba besar, jumlah bunga yang dibayarkan besarnya tetap.
2. Hasil yang diharapkan lebih rendah daripada saham biasa
3. Tidak ada perubahan pengendalian atas perusahaan bila pembiayaan memakai hutang.
4. Pembayaran bunga merupakan beban biaya yang dapat mengurangi pajak
5. Fleksibilitas dalam struktur keuangan dapat dicapai dengan memasukkan peraturan penebusan dalam perjanjian obligasi.
Kreditur (investor) lebih memilih menanamkan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang karena beberapa pertimbangan. Menurut Sundjaja at. al (2003), pemilihan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang dari sisi investor didasarkan pada beberapa hal berikut:
1. Hutang dapat memberikan prioritas baik dalam hal pendapatan maupun likuidasi kepada pemegangnya.
2. Mempunyai saat jatuh tempo yang pasti.
3. Dilindungi oleh isi perjanjian hutang jangka panjang (dari segi resiko).
4. Pemegang memperoleh pengembalian yang tetap (kecuali pendapatan obligasi).
2. Modal Sendiri
Menurut Wasis (1981), dalam struktur modal konservatif, susunan modal menitikberatkan pada modal sendiri karena pertimbangan bahwa penggunaan hutang dalam pembiayaan perusahaan mengandung resiko yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan modal sendiri. Menurut Sundjaja at al. (2003, p.324), “modal sendiri/equity capital adalah
dana jangka panjang perusahaan yang disediakan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham), yang terdiri dari berbagai jenis saham (saham preferen dan saham biasa) serta laba ditahan”.
Pendanaan dengan modal sendiri akan menimbulkan opportunity cost. Keuntungan dari memiliki saham perusahaan bagi owner adalah control terhadap perusahaan. Namun, return yang dihasilkan dari saham tidak pasti dan pemegang saham adalah pihak pertama yang menanggung resiko perusahaan. Modal sendiri atau ekuitas merupakan modal jangka panjang yang diperoleh dari pemilik perusahaan atau pemegang saham. Modal sendiri diharapkan tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas sedangkan modal pinjaman memiliki jatuh tempo. Ada 2 (dua) sumber utama dari modal sendiri yaitu:
a) Modal saham preferen
Saham preferen memberikan para pemegang sahamnya beberapa hak istimewa yang menjadikannya lebih senior atau lebih diprioritaskan daripada pemegang saham biasa. Oleh karena itu, perusahaan tidak memberikan saham preferen dalam jumlah yang banyak.
Beberapa keuntungan penggunaan saham preferen bagi manajemen menurut Sundjaja at. al (2003) adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pengaruh keuangan.
2. Fleksibel karena saham preferen memperbolehkan penerbit untuk tetap pada posisi menunda tanpa mengambil resiko untuk memaksakan jika usaha sedang lesu yaitu dengan tidak membagikan bunga atau membayar pokoknya.
3. Dapat digunakan dalam restrukturisasi perusahaan, merger, pembelian saham oleh perusahaan dengan pembayaran melalui hutang baru dan divestasi.
b) Modal saham biasa
Pemilik perusahaan adalah pemegang saham biasa yang menginvestasikan uangnya dengan harapan mendapat pengembalian dimasa yang akan datang. Pemegang saham biasa kadang-kadang disebut pemilik residual sebab mereka hanya menerima sisa setelah seluruh tuntutan atas pendapatan dan asset telah dipenuhi.
Ada beberapa keunggulan pembiayaan dengan saham biasa bagi kepentingan manajemen (perusahaan), menurut Sundjaja at. al (2003), yaitu :
1. Saham biasa tidak memberi dividen tetap. Jika perusahaan dapat memperoleh laba, pemegang saham biasa akan memperoleh dividen. Tetapi berlawanan dengan bunga obligasi yang sifatnya tetap (merupakan biaya tetap bagi perusahaan), perusahaan tidak
diharuskan oleh hukum untuk selalu membayar dividen kepada para pemegang saham biasa.
2. Saham biasa tidak memiliki tanggal jatuh tempo.
3. Karena saham biasa menyediakan landasan penyangga atas rugi yang diderita para kreditornya, maka penjualan saham biasa akan meningkatkan kredibilitas perusahaan.
4. Saham biasa dapat, pada saat-saat tertentu, dijual lebih mudah dibandingkan bentuk hutang lainnya. Saham biasa mempunyai daya tarik tersendiri bagi kelompok-kelompok investor tertentu karena (a) dapat memberi pengembalian yang lebih tinggi dibanding bentuk hutang lain atau saham preferen; dan (b) mewakili kepemilikan perusahaan, saham biasa menyediakan para investor benteng proteksi terhadap inflasi secara lebih baik dibanding saham preferen atau obligasi. Umumnya, saham biasa meningkat nilainya jika nilai aktiva riil juga meningkat selama periode inflasi.
5. Pengembalian yang diperoleh dalam saham biasa dalam bentuk keuntungan modal merupakan obyek tarif pajak penghasilan yang rendah. (Weston & Copeland) Menurut Wasis (1981, p.81), “pemilik yang menyetorkan modal akan menjadi penanggung resiko yang pertama. Artinya bahwa pihak non pemilik tidak akan menderita kerugian sebelum kewajiban dari pemilik ditunaikan seluruhnya.
Kerugian perusahaan pertama-tama harus dibebankan kepada pemilik. Dari segi investor (Sundjaja, 2003), keuntungan menggunakan saham (modal sendiri) adalah sebagai berikut:
1. Memiliki hak suara (hak kendali) dalam perusahaan.
2. Tidak ada jatuh tempo.
3. Karena menanggung resiko yang lebih besar, maka kompensasi bagi pemegang modal sendiri lebih tinggi dibanding dengan pemegang modal pinjaman.
BAB II
PENGERTIAN DAN TEORI STRUKTUR MODAL
Untuk mengetahui Pengertian Struktur Modal, maka
dengan ini dapat dijelaskan tentang Definsi Modal dan Definisi Strukutur Modal
sebagai berikut :
2.1.
Pengertian Modal dan Struktur Modal
Modal
adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan dalam pos
modal (modal saham), keuntungan atau
laba yang ditahan atau kelebihan aktiva yang dimiliki perusahaan terhadap
seluruh utangnya (Munawir,2001).
Modal pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu
modal Aktif (Debet) dan modal Pasif (Kredit).
Struktur
Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal
sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang
maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba
ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal merupakan masalah penting dalam
pengambilan keputusan mengenai pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur
Modal tersebut maka dapat digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur
Modal dalam suatu Perusahaan.
2.2. Teori
Struktur Modal
2.2.1. Teori Pendekatan Tradisional
Pendekatan
Tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya
Struktur Modal mempunyai pengaruh terhadap Nilai Perusahaan, dimana Struktur
Modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal.
2.2.2. Teori Pendekatan Modigliani dan Miller
Dalam teori ini
berpendapat bahwa Struktur Modal tidak mempengaruhi Perusahaan. Dalam hal ini
telah dimasukkan faktor pajak. Sehingga nilai Perusahaan dengan hutang lebih
tinggi dibandingkan dengan nilai perusahan tanpa hutang, Kenaikan tersebut
dikarenakan adanya penghematan pajak.
2.2.3. Teori Trade-Off dalam Struktur Modal
Dalam kenyataan,
ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang sebanyak
banyaknya. Suatu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya hutang,
akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan tersebut bisa
cukup signifikan. Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu :
a.
Biaya Langsung
Yaitu, biaya yang
dikeluarkan untuk membayar biaya administrasi, atau biaya lainnya yang sejenis.
b.
Biaya Tidak
Langsung
Yaitu, biaya yang
terjadi karena dalam kondisi kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain
tidak mau berhubungan dengan perusahaan secara normal. Misalnya Suplier tidak
akan mau memasok barang karena mengkwatirkan kemungkinan tidak akan membayar.
Biaya lain dari
peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan antara pemegang hutang
dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang dialami oleh
pemegang hutang akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan. Pengawasan
bisa dilakukan dalam bentuk biaya biaya monitoring (Persyaratan yang lebih
ketat) dan bisa dalam bentuk kenaikan tingkat bunga
2.2.4. Teori Pecking Order
Teori Trade-Off
mempunyai implikasi bahwa manager akan berfikir dalam kerangka trade-off antara
penghematan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan Struktur Modal. Dalam
kenyataan empiris nampaknya jarang manager keuangan yang berfikir demikian.
Secara spesifik,
perusahaan mempunyai urutan-urutan prefensi dalam penggunaan dana. Skenario
urutan dalam Teori Pecking Order adalah sebagai berikut :
a.
Perusahaan memilih
pandangan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba (keuntungan)
yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
b.
Perusahaan
menhitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan
investasi.
c.
Karena kebijakan
deviden yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan kesempatan
investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran kas yang diterima
oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran investasi pada
saat saat tertentu dan akan lebih kecil pada saat yang lain.
d.
Jika padangan
eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang paling
aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang, kemudian dengan
surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan kemudian barangkali
saham sebagai pilihan terakhir.
Teori Pecking Order
ini bisa menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang
lebih tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.
2.2.5. Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Teori ini
mengatakan bahwa dalam pihak pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak
mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak
tertentu mempunyai informasi yang lebih dari pihak lainnya.
Teori
ini terdiri dari Teori :
a.
Myers dan Majluf
Menurut Teori ini
ada asimetri informasi antara manger dengan pihak luar. Manager mempunyai
informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi perusahaan dibandingan pihak
luar.
b.
Signaling
Mengembangkan model
dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan signal yang disampaikan
oleh manager ke pasar. Jika manager mempunyai keyakinan bahwa prospek
perusahaan baik, dan karenanya ingin agar saham tersebut meningkat, ia ingin
megkomunikasikan hal tersebut kepada investor. Manager bisa menggunakan hutang
lebih banyak sebagai signal yang lebih credible. Karena perusahaan yang
meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek
perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal
tersebut, signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik.
2.2.6. Teori Lainnya
2.2.6.1. Pendekatan Teori
Keagenan (Agency Approach)
Menurut pendekatan
ini, struktur modal disusun untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok
kepentingan. Konflik antara pemegang saham dengan manager adalah konsep
free-cash flow. Ada kecenderungan
manager ingin menahan sumber daya
sehingga mempunyai control atas sumber daya tersebut. Hutang bisa
dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik leagenan free cash flow. Jika
perusahaan menggunakan hutang, maka manager akan dipaksa untuk mengeluarkan kas
dari perusahaan untuk membayar bunga.
2.2.6.2.Pendekatan
Interaksi Produk
Teori ini berangkat
dari teori organisasi industri dan relatif
baru, dibandingkan dengan teori lainnya. Ada dua kategori dalam
pendekatan ini, yaitu Strategi dan Menjelaskan hubungan antara Struktur Modal
dengan karakteristik produk atau input.
2.2.6.3. Konteks atas Pengendalian Perusahaan
Beberapa penemuan
pendekatan ini adalah perusahaan yang menjadi target (dalam pengambilalihan)
akan meningkatkan tingkat hutangnya, berhubungan dengan kemungkinan sukses
tender offer (penawaran terbuka pada proses pengamalihan usaha).
BAB III
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
Struktur Modal antara lain :
3.1. Struktur
Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan
perusahaan industri yang sebagian besar modalnya tertanam dalam aktiva tetap ,
akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanent yaitu modal
sendiri, sedangkan hutang bersifat pelengkap. Perusahaan yang semakin besar
aktivanya terdiri dari aktiva lancer akan cenderung mengutamakan pemenuhan kebutuhan dana dengan utang. Hal ini
menunjukkan adanya pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal suatu
perusahaan.
3.2.
Growth Opportunity
Yaitu kesempatan
perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan. Teori
Agency menggambarkan hubungan yang negative antara Growth Opprtunity dan
leverage. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung akan
melewatkan kesempatan dalam berinvestasi
pada kesempatan investasi yang menguntungkan.
3.3. Ukuran
Perusahaan (Firm Size)
Perusahaan besar cenderung akan melakukan diversifikasi usaha lebih
banyak dari pada perusahaan kecil. Oleh karena itu kemungkinan kegagalan dalam
menjalankan usaha atau kebangkrutan akan
lebih kecil. Ukuran perusahaan sering dijadikan indicator bagi
kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu perusahaan, dimana perusahaan
dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu menghadapi krisis dalam
menjalankan usahanya.
3.4.
Profitabiltas
Teori Pecking Order mengatakan bahwa perusahaan
lebih menyukai internal funding.
Perusahaan dengan frofitalitas yang tinggi tentu memiliki dana internal yang
lebih banyak dari pada perusahaan dengan profitalitas rendah.
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang
tinggi investasi menggunakan utang yang
relative kecil (Bringham & Houston, 2001).
Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan
untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan
secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitalitas berpengaruh terhadap
struktur modal perusahaan.
Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh berarti
semakin rendah utang.
3.5.
Risiko Bisnis
Risiko Bisnis akan mempersulit perusahaan
dalam melaksanakan pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh
negative terhadap leverag STRUKTUR MODAL OPTIMAL
Sumber dana yang diperoleh perusahaan
dalam menjalankan operasinya dapat ditempuh dengan dua alternatif yaitu modal
sendiri atau modal pinjaman (hutang). Modal sendiri dan pinjaman merupakan
input yang bisa dipilih perusahaan untuk mendanai aktivitas operasi, investasi
untuk memaksimumkan nilai modal pemegang saham. Masing-masing input tersebut
akan dihadapkan pada biaya modal (cost of capital) yang berbeda dan resiko yang
berbeda. Dengan demikian perumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini
antara lain : 1) Faktor-faktor resiko apa yang mempengaruhi tingkat
pengembalian investor dan kreditor ? 2) Bagaimana komposisi modal optimal PT.
Flavour Indonesia ? dan 3) Bagaimana pengaruh pertumbuhan penjualan dan arus
kas terhadap komposisi struktur modal optimal ? Tujuan dari penelitian ini
adalah menganalisa faktor-faktor resiko yang mempengaruhi tingkat pengembalian
yang diharapkan oleh investor dan kreditor, merumuskan komposisi struktur modal
optimal PT. Flavour Indonesia untuk memaksimumkan nilai perusahaan dan
menganalisa pertumbuhan penjualan dan arus kas PT. Flavour Indonesia di masa
mendatang terhadap struktur modal optimal perusahaan.
Terdapat tiga teori yang mendasari manfaat penggunaan hutang dalam perusahaan antara lain : pertama, teori sinyal (Signaling Theory atau Packing Order Theory) yang menyatakan bahwa saat manajemen melakukan hutang merupakan sinyal kepada investor bahwa perusahaan sedang melakukan investasi yang beresiko rendah. Kedua, teori keagenan (Agency Theory) menyatakan bahwa penggunaan hutang merupakan alat kontrol untuk mendisiplinkan manajemen, dalam membayar jumlah dan waktu hutang harus dibayar dari pokok dan bunganya. Kedua teori tersebut hanya menjelaskan manfaat hutang terhadap perusahaan, tetapi tidak menjelaskan seberapa besar hutang yang harus dilakukan agar nilai perusahaan mencapai optimal.
Teori yang ketiga disebut teori trade-off yang memberi penjelasan seberapa besar hutang yang harus dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dampak positif penggunaan hutang meliputi: 1) adanya hutang dalam struktur kepemilikan perusahaan akan mendisiplinkan manajemen dalam mengelola arus kas perusahaan dan mengurangi adanya biaya keagenan. 2) hutang dapat di gunakan sebagai alat sinyal kepada investor tentang nilai perusahaan di masa yang akan datang. 3) Pembayaran bunga kepada kreditor merupakan alat untuk mengendalikan manajemen terhadap penggunaan free cash flows yang tidak perlu. Dampak negatif penggunaan hutang meliputi: 1) Hutang meningkatkan adanya kemungkinan bankrut dan kenaikan adanya resiko keuangan. 2) Peningkatan financial distress dan biaya likuidasi. 3) Hutang yang tinggi memungkinkan perusahaan dilakukan Leverage Buy Out. Teori ini menyatakan bahwa struktur modal optimal di tentukan oleh trade-off antara manfaat dan kerugian menggunakan sumber pendanaan dari hutang. Keuntungan dari penggunaan hutang utamanya adalah adanya efek perlindungan pajak (tax shield) dan penurunan biaya keagenan. Saat kedua trade-off bertemu pada satu titik maka nilai perusahaan menjadi maksimum, dan merupakan batasan dimana perusahaan harus menggunakan hutang agar tidak terkena dampak negatif dari hutang.
Tehnik yang dipergunakan untuk menganalisa tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor maupun kreditor yang dihadapkan pada faktor resiko yaitu tehnik Capital Asset Pricing Models (CAPM). Salah satu kelebihan tehnik CAPM adalah dapat digunakan untuk menghubungkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor ataupun kreditor dengan tingkat resiko yang dihadapi. Dalam hal ini resiko yang dihadapi perusahaan meliputi: resiko bisnis (business risk), resiko operasional (operational leverage) dan resiko keuangan (financial leverage). Laba perusahaan belum tentu dibagikan menjadi deviden yang utuh diterima oleh investor, demikian juga kreditor yang menerima arus kas riil berupa bunga yang berjumlah tetap dan harus dibayar oleh perusahaan dalam periode tertentu. Hal inilah yang menjadikan tehnik CAPM cocok digunakan dalam analisis hubungan tingkat pengembalian investor dan kreditor dengan faktor resiko yang dihadapi perusahaan.
Untuk mengetahui perubahan marginal beta dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor dan investor dengan perubahan penggunaan tingkat hutang maka digunakan metode Hamada Equation. Untuk mengukur biaya modal perusahaan digunakan nilai WACC, dan untuk nilai perusahaan digunakan metode Present Value sesuai dengan WACC berdasarkan tingkat hutang yang digunakan. Batasan menggunakan hutang untuk mencapai struktur modal optimal adalah perubahan marginal WACC dan nilai perusahaan mencapai nol, dan batasan penerimaan hutang agar perusahaan layak adalah NPV minimal nol.
Hasil pengujian data terhadap penggunaan dan pemenuhan asumsi OLS adalah sebagai berikut, pengujian Variance Inflation Factor dilakukan untuk menguji multikolinieritas antar variabel bebas dalam data yang digunakan. Hasil regresi untuk CAPM tingkat pengembalian kreditor, tingkah laku biaya tetap dan variabel terjadi korelasi positif, untuk menghilangkan dampak korelasi digunakan metode Cohrane-Orcutt sehingga otokorelasi order pertama dapat dihilangkan dengan pengujian Durbin-Watson. Untuk pengujian heterokedastisitas digunakan metode Glejser setelah data yang bersifat outlier dihilangkan. Dengan demikian hasil regresi seluruh model memenuhi asumsi linear dan asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) dapat digunakan.
Hasi regresi CAPM multifaktor atas resiko dan tingkat pengembalian yang diharapkan investor adalah: Resiko pasar meliputi IHSG dengan beta 0.624, beta nilai tukar rupiah terhadap US dollar periode lag (t-1) adalah -0.408, dan beta inflasi sebesar -0.006, masing-masing dengan tingkat keyakinan 5 persen dan inflasi 10 persen. Di sisi lain untuk GDP tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Resiko spesifik yang mempengaruhi tingkat pengembalian investor antara lain struktur modal dengan koefisien 0.24 dan Return on Investment (ROI) sebesar 0.627 dengan tingkat keyakinan 5 persen. Untuk likuiditas berpengaruh nyata pada beta 0.065 dengan tingkat keyakinan 10 persen, sedangkan turnover dan pertumbuhan aktiva tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Dengan demikian beta yang dihadapi oleh investor adalah sebesar 1.142
Resiko-resiko yang mempengaruhi tingkat pengembalian kreditor meliputi coverage ratio dengan beta 0.0246, beta Profit Operating Ratio (POR) sebesar 0.11 struktur modal dengan beta 0.3746 dan beta likuiditas bertanda negatif sebesar -0.013 masing-masing mempunyai tingkat signifikansi pada tingkat kepercayaan 5 persen. Di sisi lain faktor Price Book Value Ratio (PBV), Return on Investment (ROI), Inventory Turnover dan pertumbuhan aktiva tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen, sehingga total beta dari kreditor yang signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen adalah sebesar 0.4956.
Untuk menghitung struktur modal optimal PT. Flavour Indonesia berdasarkan beta investor dan kreditor pada industri makanan dan minuman digunakan premi bebas resiko dari rata-rata tingkat suku bunga Bank Indonesia periode 2002-2004 sebesar 10.80 persen. Premi resiko didasarkan pada rata-rata risk country dari PERC Asian Intelligence Reports periode 2001-2003 sebesar 9.61 persen. Struktur Modal Optimal PT.Flavour Indonesia akan mencapai optimal pada komposisi hutang sebesar 22.5 persen atau sebesar Rp. 3,375,000,000.00 dengan tingkat pengembalian yang diharapkan investor sebesar 17.34 persen dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sebesar 16.53 persen dan mencapai WACC minimal sebesar 16.042 persen. Pada kondisi tersebut nilai perusahaan mencapai optimal senilai Rp.11,641,000,000.00 dengan NPV Rp. 1,817,000,000.00 dan nilai marginal WACC, nilai perusahaan dan NPV mencapai nol. Untuk mempertahankan agar perusahaan tetap layak atau NPV minimal nol maka hutang maksimal yang bisa digunakan sebesar 60 persen atau sebesar Rp. 9,000,000,000.00
Tingkah laku biaya jangka pendek menunjukkan bahwa Rp.0.6732 dari Rp.1 penjualan bersifat variabel dari penjualan dan Rp.196,335,708.00 per tahun bersifat tetap dan tidak dipengaruhi tingkat penjualan, sedangkan dalam jangka panjang terjadi kecenderungan kenaikan biaya tetap menjadi Rp. 406,654,380.00 dan biaya variabel menjadi sebesar Rp. 0.7495 dari Rp. 1 penjualan atau terjadi penurunan margin penjualan sebesar Rp. 0.0763 dari Rp.1 penjualan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang cenderung terjadi kenaikan resiko operasi perusahaan, yang berarti untuk mencapai tingkat titik impas dan untuk memenuhi tingkat pengembalian yang diharapkan investor maka jumlah penjualan juga harus ditingkatkan.
Struktur modal optimal perusahaan dapat dicapai jika penjualan perusahaan dalam kisaran Rp.8,476,191,225.00 sampai dengan Rp.11,900,074.524.00. Dalam kondisi ini perusahaan dapat menutup biaya operasi dan tingkat pengembalian yang diharapkapkan oleh investor dan kreditor. Untuk mencapai titik impas pada kondisi struktur modal optimal maka penjualan harus dilakukan dalam kisaran Rp.2,308,392,010.00 sampai dengan. Rp.3,851,917,495.00 yang artinya investor tidak menerima tingkat pengembalian yang diharapkan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penggunaan hutang perusahaan harus menyesuaikan pada tingkat penjualan yang sudah dicapai agar hutang tidak berdampak negatif terhadap laba dan arus kas perusahaan. Penggunaan hutang untuk mencapai struktur modal optimal dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan pencapaian penjualan perusahaan.
Seandainya dalam pelaksanaan penggunaan hutang tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sesudah dihitung dengan metode CAPM berbeda dengan tingkat suku bunga riil yang dinginkan kreditor, maka perusahaan dapat menyesuaikan kondisi tersebut dengan cara meningkatkan atau menurunkan penggunaan hutang. Apabila suku bunga riil yang diinginkan kreditor di bawah struktur modal optimal 16.53 persen, maka tingkat penggunaan hutang harus ditingkatkan dan apabila diatas 16.53 persen maka penggunaan hutang dapat diturunkan agar struktur modal optimal perusahaan dapat tetap dipertahankan.
Terdapat tiga teori yang mendasari manfaat penggunaan hutang dalam perusahaan antara lain : pertama, teori sinyal (Signaling Theory atau Packing Order Theory) yang menyatakan bahwa saat manajemen melakukan hutang merupakan sinyal kepada investor bahwa perusahaan sedang melakukan investasi yang beresiko rendah. Kedua, teori keagenan (Agency Theory) menyatakan bahwa penggunaan hutang merupakan alat kontrol untuk mendisiplinkan manajemen, dalam membayar jumlah dan waktu hutang harus dibayar dari pokok dan bunganya. Kedua teori tersebut hanya menjelaskan manfaat hutang terhadap perusahaan, tetapi tidak menjelaskan seberapa besar hutang yang harus dilakukan agar nilai perusahaan mencapai optimal.
Teori yang ketiga disebut teori trade-off yang memberi penjelasan seberapa besar hutang yang harus dilakukan perusahaan untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Dampak positif penggunaan hutang meliputi: 1) adanya hutang dalam struktur kepemilikan perusahaan akan mendisiplinkan manajemen dalam mengelola arus kas perusahaan dan mengurangi adanya biaya keagenan. 2) hutang dapat di gunakan sebagai alat sinyal kepada investor tentang nilai perusahaan di masa yang akan datang. 3) Pembayaran bunga kepada kreditor merupakan alat untuk mengendalikan manajemen terhadap penggunaan free cash flows yang tidak perlu. Dampak negatif penggunaan hutang meliputi: 1) Hutang meningkatkan adanya kemungkinan bankrut dan kenaikan adanya resiko keuangan. 2) Peningkatan financial distress dan biaya likuidasi. 3) Hutang yang tinggi memungkinkan perusahaan dilakukan Leverage Buy Out. Teori ini menyatakan bahwa struktur modal optimal di tentukan oleh trade-off antara manfaat dan kerugian menggunakan sumber pendanaan dari hutang. Keuntungan dari penggunaan hutang utamanya adalah adanya efek perlindungan pajak (tax shield) dan penurunan biaya keagenan. Saat kedua trade-off bertemu pada satu titik maka nilai perusahaan menjadi maksimum, dan merupakan batasan dimana perusahaan harus menggunakan hutang agar tidak terkena dampak negatif dari hutang.
Tehnik yang dipergunakan untuk menganalisa tingkat pengembalian yang diharapkan oleh investor maupun kreditor yang dihadapkan pada faktor resiko yaitu tehnik Capital Asset Pricing Models (CAPM). Salah satu kelebihan tehnik CAPM adalah dapat digunakan untuk menghubungkan tingkat pengembalian yang diharapkan investor ataupun kreditor dengan tingkat resiko yang dihadapi. Dalam hal ini resiko yang dihadapi perusahaan meliputi: resiko bisnis (business risk), resiko operasional (operational leverage) dan resiko keuangan (financial leverage). Laba perusahaan belum tentu dibagikan menjadi deviden yang utuh diterima oleh investor, demikian juga kreditor yang menerima arus kas riil berupa bunga yang berjumlah tetap dan harus dibayar oleh perusahaan dalam periode tertentu. Hal inilah yang menjadikan tehnik CAPM cocok digunakan dalam analisis hubungan tingkat pengembalian investor dan kreditor dengan faktor resiko yang dihadapi perusahaan.
Untuk mengetahui perubahan marginal beta dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor dan investor dengan perubahan penggunaan tingkat hutang maka digunakan metode Hamada Equation. Untuk mengukur biaya modal perusahaan digunakan nilai WACC, dan untuk nilai perusahaan digunakan metode Present Value sesuai dengan WACC berdasarkan tingkat hutang yang digunakan. Batasan menggunakan hutang untuk mencapai struktur modal optimal adalah perubahan marginal WACC dan nilai perusahaan mencapai nol, dan batasan penerimaan hutang agar perusahaan layak adalah NPV minimal nol.
Hasil pengujian data terhadap penggunaan dan pemenuhan asumsi OLS adalah sebagai berikut, pengujian Variance Inflation Factor dilakukan untuk menguji multikolinieritas antar variabel bebas dalam data yang digunakan. Hasil regresi untuk CAPM tingkat pengembalian kreditor, tingkah laku biaya tetap dan variabel terjadi korelasi positif, untuk menghilangkan dampak korelasi digunakan metode Cohrane-Orcutt sehingga otokorelasi order pertama dapat dihilangkan dengan pengujian Durbin-Watson. Untuk pengujian heterokedastisitas digunakan metode Glejser setelah data yang bersifat outlier dihilangkan. Dengan demikian hasil regresi seluruh model memenuhi asumsi linear dan asumsi BLUE (Best Linear Unbiased Estimate) dapat digunakan.
Hasi regresi CAPM multifaktor atas resiko dan tingkat pengembalian yang diharapkan investor adalah: Resiko pasar meliputi IHSG dengan beta 0.624, beta nilai tukar rupiah terhadap US dollar periode lag (t-1) adalah -0.408, dan beta inflasi sebesar -0.006, masing-masing dengan tingkat keyakinan 5 persen dan inflasi 10 persen. Di sisi lain untuk GDP tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Resiko spesifik yang mempengaruhi tingkat pengembalian investor antara lain struktur modal dengan koefisien 0.24 dan Return on Investment (ROI) sebesar 0.627 dengan tingkat keyakinan 5 persen. Untuk likuiditas berpengaruh nyata pada beta 0.065 dengan tingkat keyakinan 10 persen, sedangkan turnover dan pertumbuhan aktiva tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat pengembalian investor. Dengan demikian beta yang dihadapi oleh investor adalah sebesar 1.142
Resiko-resiko yang mempengaruhi tingkat pengembalian kreditor meliputi coverage ratio dengan beta 0.0246, beta Profit Operating Ratio (POR) sebesar 0.11 struktur modal dengan beta 0.3746 dan beta likuiditas bertanda negatif sebesar -0.013 masing-masing mempunyai tingkat signifikansi pada tingkat kepercayaan 5 persen. Di sisi lain faktor Price Book Value Ratio (PBV), Return on Investment (ROI), Inventory Turnover dan pertumbuhan aktiva tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen, sehingga total beta dari kreditor yang signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen adalah sebesar 0.4956.
Untuk menghitung struktur modal optimal PT. Flavour Indonesia berdasarkan beta investor dan kreditor pada industri makanan dan minuman digunakan premi bebas resiko dari rata-rata tingkat suku bunga Bank Indonesia periode 2002-2004 sebesar 10.80 persen. Premi resiko didasarkan pada rata-rata risk country dari PERC Asian Intelligence Reports periode 2001-2003 sebesar 9.61 persen. Struktur Modal Optimal PT.Flavour Indonesia akan mencapai optimal pada komposisi hutang sebesar 22.5 persen atau sebesar Rp. 3,375,000,000.00 dengan tingkat pengembalian yang diharapkan investor sebesar 17.34 persen dan tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sebesar 16.53 persen dan mencapai WACC minimal sebesar 16.042 persen. Pada kondisi tersebut nilai perusahaan mencapai optimal senilai Rp.11,641,000,000.00 dengan NPV Rp. 1,817,000,000.00 dan nilai marginal WACC, nilai perusahaan dan NPV mencapai nol. Untuk mempertahankan agar perusahaan tetap layak atau NPV minimal nol maka hutang maksimal yang bisa digunakan sebesar 60 persen atau sebesar Rp. 9,000,000,000.00
Tingkah laku biaya jangka pendek menunjukkan bahwa Rp.0.6732 dari Rp.1 penjualan bersifat variabel dari penjualan dan Rp.196,335,708.00 per tahun bersifat tetap dan tidak dipengaruhi tingkat penjualan, sedangkan dalam jangka panjang terjadi kecenderungan kenaikan biaya tetap menjadi Rp. 406,654,380.00 dan biaya variabel menjadi sebesar Rp. 0.7495 dari Rp. 1 penjualan atau terjadi penurunan margin penjualan sebesar Rp. 0.0763 dari Rp.1 penjualan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang cenderung terjadi kenaikan resiko operasi perusahaan, yang berarti untuk mencapai tingkat titik impas dan untuk memenuhi tingkat pengembalian yang diharapkan investor maka jumlah penjualan juga harus ditingkatkan.
Struktur modal optimal perusahaan dapat dicapai jika penjualan perusahaan dalam kisaran Rp.8,476,191,225.00 sampai dengan Rp.11,900,074.524.00. Dalam kondisi ini perusahaan dapat menutup biaya operasi dan tingkat pengembalian yang diharapkapkan oleh investor dan kreditor. Untuk mencapai titik impas pada kondisi struktur modal optimal maka penjualan harus dilakukan dalam kisaran Rp.2,308,392,010.00 sampai dengan. Rp.3,851,917,495.00 yang artinya investor tidak menerima tingkat pengembalian yang diharapkan. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penggunaan hutang perusahaan harus menyesuaikan pada tingkat penjualan yang sudah dicapai agar hutang tidak berdampak negatif terhadap laba dan arus kas perusahaan. Penggunaan hutang untuk mencapai struktur modal optimal dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan pencapaian penjualan perusahaan.
Seandainya dalam pelaksanaan penggunaan hutang tingkat pengembalian yang diharapkan kreditor sesudah dihitung dengan metode CAPM berbeda dengan tingkat suku bunga riil yang dinginkan kreditor, maka perusahaan dapat menyesuaikan kondisi tersebut dengan cara meningkatkan atau menurunkan penggunaan hutang. Apabila suku bunga riil yang diinginkan kreditor di bawah struktur modal optimal 16.53 persen, maka tingkat penggunaan hutang harus ditingkatkan dan apabila diatas 16.53 persen maka penggunaan hutang dapat diturunkan agar struktur modal optimal perusahaan dapat tetap dipertahankan.
ANALISIS KEPUTUSAN STRUKTUR MODAL
(Studi pada
Industri Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta)
A. Latar Belakang
Indonesia
adalah negara dengan kepadatan penduduk tertinggi ke-3 di kecil unia. Menurut
survei terakhir tahun 2000, Indonesia memiliki kurang lebih 250 juta jiwa (www.google.com/
apa ) tak boleh awal kamimat Dalam
hal kehidupannya, manusia membutuhkan sandang, pangan, dan papan sebagai
kebutuhan primer. Meningkatnya kebutuhan papan yang sejalan dengan meningkatnya
populasi penduduk, maka pinggiran sungaipun menjadi serbuan orang untuk membuat
rumah. Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia memperoleh
perhatian sungguh-sungguh walaupun kenyataan menunjukkan, bahwa kebutuhan atau
permintaan terhadap rumah tetap jauh lebih besar dari kemampuan untuk
menyediakannya. ini Namun juga demikian
dengan berbagai cara, pembangunan perumahan beserta lingkungannya tetap
diusahakan untuk dapat berjalan seimbang dengan laju pertambahan penduduk.
Semakin gencarnya
usaha pemerintah dalam melakukan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah
demi tercapainnya kesejahteraan masyarakat, maka pembangunan fisik yang sedang
berlangsung, harus didukung oleh komponen-komponen yang menunjang. Salah satu
komponen yang terlibat langsung dan bisa dikatakan sebagai kebutuhan yang pokok
dalam pembangunan fisik adalah tersedianya semen.
Kinerja
industri semen yang dapat dikatakan baik terlihat dengan produksi semen di
Indonesia yang kapasitasnya kini mencapai sekitar 42 juta ton per tahun denagn
produksi di atas 30 juta ton per tahun, Selain diproduksi untuk dalam negeri
juga diekspor. Departemen Perindustrian menarhetkan ekspor semen dan bahan
galian non logam lainnya pada tahun 2006 tumbuh sebasar 7 persen atau mencapai
sekitar USD170 juta dibandingkan tahun 2005 yang mencapai USD160 juta. Dengan
adanya pertumbuhan tersebut, Departemen Perindustrian memperkirakan jumlah
tenaga kerja di sektor tersebut juga akan meningkat dari 210 ribu orang pada
tahun 2005 menjadi 215 ribu orang pada tahun 2006. Di bawah ini merupakan laba
bersih yang dicatat oleh PT Semen Gresik, Tbk. dan PT Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk.(Media Indonesia, 24 Januari 2006)
Table 1.
Laba Bersih yang dicatat PT Seman
Gresik, Tbk. dan PT Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk. (dalam rupiah) Satu spasi
|
tahun
|
PT Semen Gresik, Tbk.
|
PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk.
|
|
2003
|
Rp 399.007.535,00
|
Rp
670.289.725.534,00
|
|
2004
|
Rp 508.915.808,00
|
Rp
116.023.426.558,00
|
|
2005
|
Rp
1.022.568.492,00
|
Rp
739.685.877.628,00
|
Sumber:www.bes.co.id
Kondisi
keuangan PT Semen Gresik, Tbk. dalam beberapa tahun ini menunjukkan peningkatan
yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari laba bersih yang diperoleh
perusahaan pada tahun 2003 hingga tahun
2005 selalu mangalami peningkatan. Berbeda halnya dengan PT Indocement Tunggal
Prakarsa yang mangalami penurunan pada tahun 2004. PT Seman Gresik, Tbk.
diresmikan pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh presiden RI pertama dengan
kapasitas 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 PT Semen
Gresik, Tbk. tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya serta BUMN
pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat.
Komposisi pemegang sahamnya adalah pemerintah RI 73 persen dan masyarakat 27
persen. (www.semengresik.com).
PT
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dan anak perusahaannya merupakan sebuah
kelompok multi usaha dengan tiga usaha utama yaitu usaha semen, usaha makanan,
dan usaha lainnya. Usaha semen terutama meliputi pengelolaan 8 pabrik semen dan
2 pabrik terpadu dengan jumlah kapasiyas keseluruhan sebesar 10.9 juta ton per
tahun.(www.google.com.). Selain kondisi kedua industri semen
tersebut dalam beberapa tahun ini menunjukkan perkembangan yang cukup baik yang
diikuti dengan permintaan pasar yang semakin meningkat, perbedaan kondisi
keuangan kedua perusahaan di atas juga menjadi alasan peneliti memilih PT Semen
Gresik dan PT Indocement Tunggal Prakarsa untuk melihat perbedaan analisis
keputusan struktur modalnya.
Setiap
perusahaan memiliki rencana untuk dapat
menjaga kelangsungan hidup dari usaha yang didirikan, karena tujuan dari suatu
perusahaan secara umum adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan
profitabilitas (Warsono, 2003:5). Rencana tersebut dapat dibuat oleh beberapa
manajemen perusahaan yang dapat saling bekerja sama demi terciptanya tujuan
dari perusahaan. Rencana tersebut
tentunya juga berkaitan dengan keputusan keuangan jangka pendek maupun
jangka panjang perusahaan.
Setelah
tujuan perusahaan diketahui langkah selanjutnya adalah merealisasikan agar
tujuan dari perusahaan dapat terwujud. Pertama-tama manajemen perusahaan harus
mengambil keputusan mengenai pengalokasian dana ke dalam bentuk-bentuk
investasi yang diharapkan dapat mendatangkan keuntunhan bagi perusahaan.
Langkah selanjutnya adalah menganalisis kombinasi-kombinasi sumber pembelanjaan
yang tepat untuk perusahaan.
Langkah
yang terakhir adalah keputusan manajemen aktiva (assets management
decision) yang menuntut manajer keuangan untuk lebih memperhatikan
manajemen aktiva lancar daripada aktiva tetap. Penentuan struktur modal bagi
suatu perusahaan merupakan salah satu bentuk keputusan keuangan yang penting,
karena ini berpengaruh terhadap pencapaian tujuan manajemen keuangan
perusahaan. Suatu perusahaan dikatakan memiliki struktur modal yang buruk
ketika perusahaan mempunyai beban hutang yang sangat besar.
Proses
keputusan struktur modal sangat berkaitan dengan penentuan bauran sumber
pembelanjaan jangka panjang yang optimal dan bertujuan untuk memaksimumkan
nilai pasar perusahaan serta meminimumkan biaya modal total perusahaan. Dalam
pengambilan keputusan struktur modal alat analisis yang digunakan untuk
mengnalisa pengaruh perubahan bauran komposisi sumber modal meliputi :
pendekatan EBIT-EPS, analisa arus kas, dan rasio peliputan (coverage ratio).
Tingkat
leverage keuangan yang paling optimal sangat perlu memperhatikan dan memahami
hubungan antara EBIT dan EPS pada berbagai alternatif pendanaan (financing).
Besarnya EPS sangat tergantung pada pilihan pendanaan manajemen perusahaan,
karena EPS adalan laba per lembar saham yang tersedia untuk pemegang saham biasa
yang berasal dari laba perusahaan dikurangi biaya bunga dan deviden saham
preferen, sedangkan EBIT tidak tergantung pada leverage keuangan. Analisis
EBIT-EPS ini bisa digunakan perusahaan untuk melihat dampak dari berbagai
alternatif pendanaan terhadap EPS pada tingkat EBIT yang bervariasi.
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis akan melakukan penelitian dengan mengambil
judul : ”Analisis Keputusan Struktur Modal” (Studi kasus pada perusahaan
industri semen yang terdaftar di BEJ).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah
”Berapakah tambahan dana imana hasil analisis struktur modal pada PT Semen
Gresik, Tbk. dan PT Indocement Tunggal
Prakarsa, Tbk. jika membutuhkan dana tambahan?
C. Batasan Penelitian
Berdasarkan
masalah yang ada dan agar tidak melebar serta dapat memberikan pemahaman yang
sesuai dengan rumusan masalah, maka batasan masalah peneliiti ini adalah
sebagai berikut:
”Peneliti
menggunakan harga saham penutupan bulanan PT Semen Gresik, Tbk. dan PT
Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. periode tahun 2003 sampai tahun 2005.”
D. Tujuan dan Manfaat
Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
sumber pembelanjaan mana yang akan dipakai oleh perusahaan dalam keputusan
struktur modal pada PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosement Tunggal Prakarsa,
Tbk.jika membutuhkan dana tambahan
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi
manajemen PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosement Tunggal Prakarsa, Tbk.
Hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan dalam menentukan
keputusan struktur modal yang akan digunakan dalam memenuhi sumber modalnya.
b. Bagi
investor dan pemegang saham PT. Semen Gresik, Tbk. dan PT. Indosemen, Tbk.
Hasil penelitian
ini diharapkan bisa memberikan informasi bagi para investor yang ingin
menginvestasikan sebagian dari modalnya ke dalam sebuah perusahaan.
c. Bagi
peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan untuk
melakukan Cash Flow Get Cash
Flow for:
View: Annual Data | Quarterly Data All numbers in thousands
Period Ending Jun 30, 2010 Jun 30,
2009 Jun 30, 2008
Net Income 1,211,400 1,332,600 1,235,700
Operating Activities, Cash Flows Provided
By or Used In
Depreciation 366,500 366,000 361,800
Adjustments To Net Income 221,600
124,500 82,100
Changes In Accounts Receivables (108,800) (152,600) 34,200
Changes In Liabilities (38,600) (22,300) 98,900
Changes In Inventories - -
-
Changes In Other Operating Activities 30,000
(85,600) (40,500)
Total Cash Flow From Operating Activities
1,682,100 1,562,600 1,772,200
Investing Activities, Cash Flows Provided
By or Used In
Capital Expenditures (102,900) (157,800) (181,000)
Investments (2,079,200) (358,900) (1,266,600)
Other Cash flows from Investing
Activities (1,836,800) (859,100) 4,061,500
Total Cash Flows From Investing
Activities (2,379,500) (644,100) 2,613,900
Financing Activities, Cash Flows Provided
By or Used In
Dividends Paid (673,400) (629,400) (548,900)
Sale Purchase of Stock (525,300) (497,700) (1,265,100)
Net Borrowings (732,900) 720,600 (3,457,400)
Other Cash Flows from Financing
Activities - (11,800) 700
Total Cash Flows From Financing
Activities 89,000 468,400 (5,270,700)
Effect Of Exchange Rate Changes (13,600) (39,100) 41,300
Change In Cash and Cash Equivalents (622,000) 1,347,800 (843,300)
penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penelitian yang sejenis dan
pengembangan lebih lanjut ke arah yang lebih baik.e perusahaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar